
Di Mata Mendikbud, NTT Adalah Borok Pendidikan Indonesia
Kenapa lidah Pak Menteri begitu gampang menyebut nama NTT sebagai kambing hitam buruknya peringkat Indonesia di mata dunia? (Foto: Mendikbud Muhadjir Effendy - Media Indonesia)
“Saya khawatir yang dijadikan sampel Indonesia adalah siswa-siswa dari NTT semuanya,” kata Effendy, seperti yang dikutip Jawapos.
Pertanyaannya, mengapa nama NTT disebut-sebut? Apa yang terbersit dalam pikiran sang Menteri soal pendidikan di NTT?
Memang, provinsi yang terletak di willayah kepulauan Sunda Kecil itu sangat akrab dengan berbagai persoalan. Kemiskinan sangat tinggi, korupsi paling banyak, human trafficking merajalela.
Namun, pertanyaan yang tersisa adalah apa yang salah jika seandainya sampel penelitian PISA adalah benar siswa-siswa di NTT? Apakah NTT bukan bagian dari Indonesia? Apakah Effendy hendak menyembunyikan ke dunia luar kalau kualitas pendidikan siswa di NTT sangat memprihatinkan?
Andy Tandang, anggota Lembaga Pers dan Penerbitan (LPP) Pengurus Pusat PMKRI menyayangkan pernyataan Mendikbud tersebut. Menurut Andy, di mata Mendikbud, NTT seoalah-olah menjadi anak tiri Indonesia.
“Saya ingin bertanya kepada Pak Menteri, bagaimana jika ternyata sumber data yang diambil PISA bukan dari NTT. Kenapa lidah Pak Menteri begitu gampang menyebut nama NTT sebagai kambing hitam buruknya peringkat Indonesia di mata dunia? Dengan pernyataannya ini, seoalah-olah Pak Menteri menganggap NTT sebagai anak tiri Indonesia dalam hal pendidikan” ujar mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia asal NTT itu.
Hal senada juga disampaikan oleh Marsi Edon, Presidium Hubungan Perguruan Tinggi PP PMKRI. Marsi mepertanyakan komitmen pemerintah terhadap pengelolaan pendidikan secara nasional. Pernyataan Menteri Effendy, menurutnya, merupakan momentum untuk mengevaluasi pelaksanaan pendidikan nasional.
“Pelaksanaan UUD 1945 tentang alokasi APBN untuk Pendidikan yaitu 20 persen, mesti harus dilaksanakan secara terbuka,” ungkap Marsi.
Apakah Semua Orang NTT Bodoh?
Bagi sebagian orang NTT, pernyataan yang dilontarkan Mendikbud dinilai telah melukai hati masyarakat NTT. Komunitas Pena NTT Bali misalnya. Mereka menilai pernyataan Effendy sejatinya terbentuk dari cara berpikirnya bahwa orang NTT bodoh.
“Pernyataan itu telah melukai hati orang NTT yang ada di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia,” ujar Ketua Pena NTT Emanuel Dewata Oja, di Denpasar, Selasa (5/12 )
Karena itu, Emanuel menegaskan, masyarakat NTT yang ada di Bali mengutuk keras pernyataan Effendy dan menuntut untuk meminta maaf kepada rakyat NTT.
“Menteri itu sudah melakukan hal yang tidak etis. Kami meminta agar Bapak Presiden segera mengambil tindakan tegas terhadap menteri tersebut. Kalau bisa langsung dicopot, karena melukai masyarakat NTT dan dunia pendidikan NTT,” ujar Emanuel.
Hal senada disampaikan Ambros Boli, salah satu pengurus inti Pena NTT. Menurut Ambros, secara kuantitatif mutu pendidikan di NTT memang masih rendah. Namun, secara kualitatif, banyak juga orang NTT yang menduduki posisi penting di negeri ini.
“Banyak menteri dari zaman ke zaman yang diisi orang NTT,” katanya.
Indonesia di Posisi 72
Sebagaimana dipublikasikan oleh PISA sendiri, pada tahun 2015 posisi Indonesia berada diurutan ke-72. Indonesia kalah jauh oleh Vietnam yang berada di peringkat ke-8. Posisi Indonesia hanya lebih baik dari Peru, Lebanon, Tunisia dan Brasil.
Sebelumnya pada 2012 lalu, PISA yang berada di bawah Organization Ekonomic Cooperation and Development (OECD), mengeluarkan survei bahwa Indonesia menduduki peringkat paling bawah dari 65 negara, dalam pemetaan kemampuan matematika, membaca dan sains.
Seorang warga negara asing yang sudah lama tinggal di Indonesia, merespons survei itu dengan menulis artikel di blognya berjudul “Indonesian kids don’t know how stupid they are”.
Sri Mulyani Ungkapkan Kekhawatirannya
Secara terpisah, Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyampaikan kekhawatirannya akan hasil rilis PISA tersebut saat memberikan kuliah umum di Universitas Gajah Mada, Rabu (23/8).
Menurut Mulyani, tantangan kita berada pada sektor Program For Internasional Student Assessment (PISA).
“Peringkat dan capaian nilai pelajar kita yang menguasai matematika dan membaca di Indonesia masih berada di urutan paling akhir dari negara-negara lain,” tutur mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.
Terhadap kondisi tersebut, Mulyani mengajak seluruh elemen secara khusus mahasiswa dan seluruh warga kampus agar tidak tinggal diam memikirkan seluruh persoalan bangsa termasuk sektor pendidikan yang menjadi sorotan negara-negara lain.
Komentar
Posting Komentar